Jeruk Siompu Mulai Berbuah Sebelum Tiga Tahun, Program Pelestarian AMI dan Pemprov Sultra Tuai Hasil

oleh -20 Dilihat
Misi Selamatkan Jeruk Siompu Berhasil, Tanaman Hasil Pengembangan AMI Mulai Berbuah. (Foto Ist)

FOKUSNEWS.ID, SIOMPU – Upaya pelestarian Jeruk Siompu yang dilakukan Asosiasi Mikoriza Indonesia (AMI) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Tanaman Jeruk Siompu yang ditanam pada 2021-2023 kini mulai berbuah, menandai keberhasilan program penyelamatan varietas endemik Pulau Siompu yang sempat terancam punah.

Keberhasilan tersebut mendorong Ketua Asosiasi Mikoriza Indonesia (AMI), Prof. Hj. Husna, bersama tim melakukan kunjungan lapangan selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Juni 2026.

Kunjungan dilakukan ke sejumlah lokasi penanaman, seperti kebun milik M. Falihi di Desa Lapara, kebun milik Ruslan Magu dan Safiudin Samparadja di Desa Biwinapada serta kebun milik Zainuddin Ana di Desa Nggula-nggula.

Prof. Husna menjelaskan, kunjungan tersebut bertujuan untuk memastikan perkembangan tanaman Jeruk Siompu yang merupakan hasil program pengembangan dari Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra yang bekerja sama dengan AMI. Ia mengaku sangat bahagia melihat tanaman yang belum genap tiga tahun itu sudah mulai menghasilkan buah.

“Kalau kami melihat dari hasil ini, kami sungguh bahagia karena berarti misi kami, terutama mantan Gubernur Sultra Bapak H. Ali Mazi, berhasil. Beliau yang menyiapkan dukungan pendanaan program ini. Ini baru mulai berbuah saja sudah cukup banyak buahnya sampai ke bagian atas pohon,” ujar Prof. Husna saat meninjau lokasi milik Pak Ruslan.

Menurutnya, secara alami Jeruk Siompu yang ditanam dari biji umumnya membutuhkan waktu antara lima hingga tujuh tahun untuk mulai berbuah. Namun pada program pengembangan ini, tanaman sudah menunjukkan pembuahan sebelum memasuki usia tiga tahun. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa penggunaan pupuk hayati mikoriza mampu mempercepat proses pembungaan dan pembuahan tanaman.

Ia menambahkan, tim sengaja turun langsung ke lapangan untuk memastikan bahwa tanaman yang berbuah tersebut benar-benar merupakan Jeruk Siompu asli. Langkah ini dilakukan setelah menerima laporan dari para petani mengenai perkembangan tanaman di kebun mereka.

“Informasi dari pemilik kebun menyebutkan bahwa tanaman sudah mulai berbuah. Karena itu kami datang memastikan apakah benar jenis yang berbuah ini adalah Jeruk Siompu asli yang tumbuh di Pulau Siompu, bukan jenis lain,” jelas Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo tersebut.

Prof. Husna mengungkapkan bahwa program penanaman dilakukan di lima titik di Kecamatan Siompu dengan luasan yang bervariasi, mulai dari seperempat hektare hingga satu hektare.

Program tersebut merupakan bagian dari upaya menyelamatkan Jeruk Siompu yang populasinya terus berkurang. Ia menyebut, almarhum Pala Ong Suri menjadi salah satu sosok yang selama ini dikenal memiliki kebun Jeruk Siompu asli yang menjadi rujukan pelestarian varietas tersebut.

Sementara itu, salah seorang petani di Desa Biwinapada, Ruslan Magu, mengaku bersyukur atas perkembangan tanaman yang dibudidayakannya. Ia mengatakan, pada awal penanaman pertumbuhan tanaman kurang maksimal, namun setelah dilakukan perawatan intensif menggunakan pupuk kandang dan penimbunan akar yang muncul ke permukaan tanah, pertumbuhan tanaman menjadi jauh lebih baik.

“Bersyukur sekali. Awalnya pertumbuhannya kurang baik, tetapi setelah diberi pupuk kandang dan akar yang muncul ditimbun kembali dengan tanah, pertumbuhannya semakin bagus,” ungkap Ruslan.

Hal serupa disampaikan M. Falihi, petani di Desa Lapara. Ia mengaku senang karena tanaman Jeruk Siompu di kebunnya kini mulai menghasilkan buah dengan ukuran yang semakin besar.

“Alhamdulillah, buahnya sudah mulai bagus dan besar-besar. Ini sebenarnya sudah yang kedua kalinya berbuah dan hasilnya jauh lebih baik,” katanya.

Keberhasilan awal ini menjadi harapan baru bagi pelestarian Jeruk Siompu sebagai salah satu plasma nutfah unggulan Sulawesi Tenggara.

Selain menjaga keberadaan varietas lokal, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengembangan komoditas hortikultura khas daerah. (redaksi)
Ketua Asosiasi Mikoriza Indonesia (AMI), Prof. Hj. Husna, bersama tim melakukan kunjungan lapangan ke Siompu.

Bikin Judul Sendiri

Siompu – Upaya pelestarian Jeruk Siompu yang dilakukan Asosiasi Mikoriza Indonesia (AMI) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Tanaman Jeruk Siompu yang ditanam pada 2021-2023 kini mulai berbuah, menandai keberhasilan program penyelamatan varietas endemik Pulau Siompu yang sempat terancam punah.

Keberhasilan tersebut mendorong Ketua Asosiasi Mikoriza Indonesia (AMI), Prof. Hj. Husna, bersama tim melakukan kunjungan lapangan selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Juni 2026.

Kunjungan dilakukan ke sejumlah lokasi penanaman, seperti kebun milik M. Falihi di Desa Lapara, kebun milik Ruslan Magu dan Safiudin Samparadja di Desa Biwinapada serta kebun milik Zainuddin Ana di Desa Nggula-nggula.

Prof. Husna menjelaskan, kunjungan tersebut bertujuan untuk memastikan perkembangan tanaman Jeruk Siompu yang merupakan hasil program pengembangan dari Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra yang bekerja sama dengan AMI. Ia mengaku sangat bahagia melihat tanaman yang belum genap tiga tahun itu sudah mulai menghasilkan buah.

“Kalau kami melihat dari hasil ini, kami sungguh bahagia karena berarti misi kami, terutama mantan Gubernur Sultra Bapak H. Ali Mazi, berhasil. Beliau yang menyiapkan dukungan pendanaan program ini. Ini baru mulai berbuah saja sudah cukup banyak buahnya sampai ke bagian atas pohon,” ujar Prof. Husna saat meninjau lokasi milik Pak Ruslan.

Menurutnya, secara alami Jeruk Siompu yang ditanam dari biji umumnya membutuhkan waktu antara lima hingga tujuh tahun untuk mulai berbuah. Namun pada program pengembangan ini, tanaman sudah menunjukkan pembuahan sebelum memasuki usia tiga tahun. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa penggunaan pupuk hayati mikoriza mampu mempercepat proses pembungaan dan pembuahan tanaman.

Ia menambahkan, tim sengaja turun langsung ke lapangan untuk memastikan bahwa tanaman yang berbuah tersebut benar-benar merupakan Jeruk Siompu asli. Langkah ini dilakukan setelah menerima laporan dari para petani mengenai perkembangan tanaman di kebun mereka.

“Informasi dari pemilik kebun menyebutkan bahwa tanaman sudah mulai berbuah. Karena itu kami datang memastikan apakah benar jenis yang berbuah ini adalah Jeruk Siompu asli yang tumbuh di Pulau Siompu, bukan jenis lain,” jelas Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo tersebut.

Prof. Husna mengungkapkan bahwa program penanaman dilakukan di lima titik di Kecamatan Siompu dengan luasan yang bervariasi, mulai dari seperempat hektare hingga satu hektare.

Program tersebut merupakan bagian dari upaya menyelamatkan Jeruk Siompu yang populasinya terus berkurang. Ia menyebut, almarhum Pala Ong Suri menjadi salah satu sosok yang selama ini dikenal memiliki kebun Jeruk Siompu asli yang menjadi rujukan pelestarian varietas tersebut.

Sementara itu, salah seorang petani di Desa Biwinapada, Ruslan Magu, mengaku bersyukur atas perkembangan tanaman yang dibudidayakannya. Ia mengatakan, pada awal penanaman pertumbuhan tanaman kurang maksimal, namun setelah dilakukan perawatan intensif menggunakan pupuk kandang dan penimbunan akar yang muncul ke permukaan tanah, pertumbuhan tanaman menjadi jauh lebih baik.

“Bersyukur sekali. Awalnya pertumbuhannya kurang baik, tetapi setelah diberi pupuk kandang dan akar yang muncul ditimbun kembali dengan tanah, pertumbuhannya semakin bagus,” ungkap Ruslan.

Hal serupa disampaikan M. Falihi, petani di Desa Lapara. Ia mengaku senang karena tanaman Jeruk Siompu di kebunnya kini mulai menghasilkan buah dengan ukuran yang semakin besar.

“Alhamdulillah, buahnya sudah mulai bagus dan besar-besar. Ini sebenarnya sudah yang kedua kalinya berbuah dan hasilnya jauh lebih baik,” katanya.

Keberhasilan awal ini menjadi harapan baru bagi pelestarian Jeruk Siompu sebagai salah satu plasma nutfah unggulan Sulawesi Tenggara.

Selain menjaga keberadaan varietas lokal, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengembangan komoditas hortikultura khas daerah.

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.