FOKUSNEWS.ID, KENDARI – Duka keluarga almarhum Laode Tondu hingga hari ini belum juga menemukan kejelasan. Sudah dua minggu sejak kecelakaan maut yang merenggut nyawanya di kawasan lampu merah Pasar Baru, Kota Kendari, namun pihak keluarga mengaku belum mendapatkan kepastian hukum maupun perkembangan berarti dari aparat kepolisian.
Laode Tondu meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas pada Minggu dini hari, 26 April 2026 sekitar pukul 03.40 WITA, di Jalan MT Haryono tepatnya di perempatan lampu merah Pasar Baru, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari.
Ironisnya, hingga kini identitas mobil yang diduga terlibat dalam kecelakaan tersebut masih belum diketahui. Dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang diterbitkan Satlantas Polresta Kendari tertanggal 29 April 2026, polisi hanya menyampaikan bahwa kasus masih dalam tahap penyelidikan dan penyidik sedang mencari saksi serta mengumpulkan bukti.
Bagi keluarga korban, waktu dua minggu bukanlah waktu yang singkat. Setiap hari mereka hidup dalam luka, menunggu kabar yang tak kunjung datang. Di tengah kehilangan orang tercinta, mereka juga harus menghadapi ketidakpastian hukum yang terasa menyakitkan.
“Kami tidak menuntut hal yang berlebihan. Kami hanya ingin kejelasan. Anak kami meninggal di jalan, tetapi sampai sekarang belum ada siapa yang bertanggung jawab,” ungkap pihak keluarga dengan penuh haru.
Keluarga mempertanyakan sejauh mana keseriusan penanganan kasus tersebut. Mereka berharap polisi tidak berhenti hanya pada surat pemberitahuan semata, melainkan benar-benar bekerja maksimal untuk mengungkap pelaku yang diduga terlibat dan meninggalkan korban hingga kehilangan nyawa.
Publik pun ikut menyoroti lambannya perkembangan kasus ini. Di tengah kemajuan teknologi dan banyaknya kamera pengawas di area perkotaan, masyarakat mempertanyakan mengapa hingga kini belum ada titik terang mengenai kendaraan maupun pengemudi yang terlibat.
Bagi keluarga almarhum, ini bukan sekadar perkara administrasi penyelidikan. Ini tentang nyawa manusia, tentang seorang anak yang pergi untuk selamanya, dan tentang harapan keluarga yang kini seolah menggantung tanpa kepastian.
Mereka berharap aparat penegak hukum dapat segera membuka tabir kasus tersebut agar keadilan tidak hanya menjadi janji di atas kertas. Sebab bagi keluarga korban, kehilangan ini sudah terlalu menyakitkan untuk ditambah dengan penantian yang tak berujung.






