BPS Catat Neraca Perdagangan Sultra Defisit, Inflasi Maret 2026 Capai 3,37 Persen

oleh -23 Dilihat

FOKUSNEWS.ID, KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami defisit pada Februari 2026. Berdasarkan rilis BPS, nilai ekspor Sultra tercatat sebesar US$291,74 juta, sementara impor mencapai US$293,49 juta, sehingga neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$1,74 juta.

Secara tahunan, nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada Februari 2026 mengalami peningkatan 4,00 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$280,53 juta. Namun dari sisi volume, ekspor justru mengalami penurunan 3,10 persen, dari 205,44 ribu ton pada Februari 2025 menjadi 199,07 ribu ton pada Februari 2026.

Peningkatan nilai ekspor pada Februari 2026 terutama didorong oleh komoditas besi dan baja yang mencapai US$286,73 juta, naik 11,54 persen dibandingkan Februari 2025 yang tercatat US$257,05 juta.

Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tenggara, Hadi Susanto, M.A., mengatakan secara sektoral ekspor Sultra periode Januari–Februari 2026 masih didominasi sektor industri pengolahan sebesar US$605,24 juta atau 99,82 persen dari total ekspor. Angka tersebut meningkat 3,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$587,13 juta.

“Tujuan ekspor terbesar Sulawesi Tenggara selama Januari–Februari 2026 adalah Tiongkok dengan nilai mencapai US$583,78 juta atau 96,28 persen dari total ekspor,” ujarnya.

Sementara dari sisi impor, nilai impor Sulawesi Tenggara pada Februari 2026 tercatat US$293,49 juta, meningkat tajam 167,02 persen dibandingkan Februari 2025. Volume impor juga meningkat 30,86 persen menjadi 362,17 ribu ton.

Kenaikan impor terbesar berasal dari golongan mesin-mesin dan pesawat mekanik yang mencapai US$163,34 juta, melonjak hingga 2.491,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selama Januari–Februari 2026, tiga negara pemasok utama barang impor ke Sultra adalah Tiongkok dengan nilai US$383,21 juta, Singapura sebesar US$77,12 juta, dan Malaysia sebesar US$30,02 juta.

Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor pada periode Januari–Februari 2026 didominasi oleh barang modal yang mencapai US$280,58 juta atau naik 2.014,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, impor barang konsumsi meningkat 441,70 persen atau naik US$0,66 juta, serta bahan baku/penolong naik 17,89 persen atau sebesar US$32,83 juta.

Selain itu, BPS juga mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) di Sulawesi Tenggara pada Maret 2026 sebesar 3,37 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,55.

Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kolaka sebesar 6,02 persen dengan IHK 114,72, sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Konawe sebesar 1,81 persen dengan IHK 111,14.

Inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, di antaranya makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,10 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 7,31 persen, transportasi sebesar 1,52 persen, pendidikan sebesar 4,34 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meningkat hingga 12,03 persen.

Sebaliknya, dua kelompok pengeluaran mengalami deflasi, yakni perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,16 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,25 persen.

Secara bulanan, Sulawesi Tenggara mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,41 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) tercatat 1,77 persen.

BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Tenggara pada Maret 2026 turun 1,64 persen, dari 100,19 menjadi 98,55. Penurunan ini dipengaruhi turunnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,22 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik 0,43 persen.

Secara subsektor, NTP tercatat sebagai berikut: tanaman pangan 103,36, hortikultura 107,11, tanaman perkebunan rakyat 89,58, peternakan 108,43, dan perikanan 109,32. Sementara NTP nasional tercatat 125,35 atau turun 0,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Di sektor pariwisata, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sultra pada Februari 2026 tercatat 28,70 persen, turun 1,97 poin dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 30,67 persen.

Selain itu, Tingkat Pemakaian Tempat Tidur (TPTT) hotel berbintang pada Februari 2026 tercatat 26,62 persen, turun 1,79 poin dibandingkan Januari yang sebesar 28,41 persen.

Rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang pada Februari 2026 tercatat 1,11 malam, sama dengan bulan sebelumnya. Dari sisi komposisi tamu, 98,74 persen merupakan tamu domestik, sementara 1,26 persen merupakan tamu asing.

Sementara itu, BPS juga mencatat penurunan jumlah penumpang pada sejumlah moda transportasi. Pada Februari 2026, jumlah penumpang angkutan udara domestik yang berangkat dari Sulawesi Tenggara tercatat 46.925 orang, turun 13,99 persen dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 54.558 orang.

Jumlah penumpang yang datang melalui jalur udara juga menurun 21,89 persen, dari 58.797 orang pada Januari menjadi 45.925 orang pada Februari 2026.

Penurunan juga terjadi pada angkutan laut domestik. Jumlah penumpang yang berangkat pada Februari 2026 tercatat 90.082 orang, turun 20,11 persen dibandingkan Januari yang mencapai 112.764 orang. Sementara penumpang yang datang turun 19,17 persen, dari 122.643 orang menjadi 99.132 orang.

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.