BI Catat Ekonomi Sultra Melampaui Nasional, Inflasi Tetap Terkendali

oleh -35 Dilihat
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi, menjelaskan bahwa pada Triwulan IV-2025, ekonomi Sultra tumbuh 5,94 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini mencerminkan ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika global dan nasional. (Foto Ist)

FOKUSNEWS.ID, KENDARI – Perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan kinerja yang solid dan berkelanjutan. Sepanjang tahun 2025, ekonomi Sultra tumbuh sebesar 5,79 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 5,40 persen (yoy), serta berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi, menjelaskan bahwa pada Triwulan IV-2025, ekonomi Sultra tumbuh 5,94 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini mencerminkan ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika global dan nasional.

“Dari sisi penawaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari Lapangan Usaha Jasa Keuangan yang tumbuh 17,27 persen (yoy), didorong oleh ekspansi kredit dan meningkatnya transaksi digital,” ujar Edwin.

Selain itu, Lapangan Usaha Akomodasi dan Makan Minum juga mengalami pertumbuhan signifikan seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta berbagai ajang nasional yang digelar di Sulawesi Tenggara. Pertumbuhan ekonomi turut diperkuat oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi, sejalan dengan lonjakan aktivitas digital masyarakat.

Meski demikian, kinerja ekonomi Sultra masih tertahan oleh perlambatan pada Lapangan Usaha Pengadaan Air dan Administrasi Pemerintahan.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) melalui pembangunan kawasan industri dan fasilitas pendidikan, serta Konsumsi Rumah Tangga yang tetap terjaga daya belinya. Namun, kontraksi pada kinerja ekspor besi baja serta peningkatan impor bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor penahan laju pertumbuhan secara keseluruhan.

Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulawesi Tenggara pada Januari 2026 mencatat inflasi sebesar 0,69 persen (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 0,22 persen (mtm), serta berbanding terbalik dengan inflasi nasional yang mengalami deflasi -0,15 persen (mtm).

Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain emas perhiasan, ikan cakalang, ikan layang, ikan kembung, dan ikan selar. Kenaikan harga emas perhiasan dipicu oleh meningkatnya harga emas global akibat ketidakpastian ekonomi dan instabilitas geopolitik dunia yang mendorong permintaan aset safe haven. Sementara kenaikan harga ikan disebabkan oleh berkurangnya aktivitas melaut nelayan akibat kondisi cuaca buruk dan gelombang laut yang mencapai lebih dari 1,5 meter.

Dalam rangka menjaga stabilitas harga menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, Bank Indonesia Sulawesi Tenggara bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi melalui dukungan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Fasilitasi Distribusi Pangan pada Februari 2026. Kegiatan ini melibatkan delapan TPID, bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Selain pengendalian inflasi, BI Sultra juga memastikan kelancaran transaksi masyarakat melalui penyelenggaraan Program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri) 2026. Program ini menyediakan layanan penukaran uang rupiah melalui kas keliling, loket perbankan, dan penukaran bersama berbasis sistem digital PINTAR.

Untuk memenuhi kebutuhan uang rupiah layak edar selama Ramadan dan Idul Fitri 2026, Kantor Perwakilan BI Sulawesi Tenggara menyiapkan dana sebesar Rp1,2 triliun. Jumlah penukaran per orang pada SERAMBI 2026 juga meningkat menjadi Rp5,3 juta, naik 23,2 persen dibandingkan tahun 2025.

Edwin menambahkan, pertumbuhan ekonomi Sultra juga tidak terlepas dari pesatnya perkembangan transaksi non-tunai, khususnya melalui QRIS. Pada Triwulan IV-2025, jumlah pengguna QRIS bertambah 31.723 pengguna, sehingga total mencapai 303.254 pengguna, tumbuh 12 persen (yoy). Jumlah merchant QRIS juga meningkat signifikan sebesar 37,65 persen (yoy) menjadi 239.463 merchant, dengan volume transaksi melonjak 184,61 persen (yoy).

“Ke depan, akseptasi QRIS akan terus diperluas sebagai penggerak utama transaksi ritel dan inklusi keuangan di Sulawesi Tenggara,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.